Kebangkitan Bangsa Kita

Ketika diriku baru berusia sepuluh atau lima belas tahun, ayahku menanamkan kekaguman pada dua hal: yang pertama, kekaguman kepada para Sahabat. Yang kedua,  kekaguman kepada Kekaisaran Ottoman. Ketika membahas sosok-sosok seperti  "Yıldırım,[1] Yavuz[2]...", mata ayahku akan berkaca-kaca. Matanya segera berkabut. Sejak hari itu hingga hari ini, diriku tidak pernah bisa mencerna mereka yang menginjak-injak bangsa ini... Aku tidak pernah bisa mencerna bangsa kita yang kian menyusut; menyusut dan hanya tumbuh menjadi komunitas kecil, miskin, dan membutuhkan uluran tangan orang lain. Bagaimana mungkin sebuah bangsa yang demikian besar sehingga tidak cukup ditampung oleh dunia yang sempit ini kemudian terjebak dan seakan terjepit di antara dua danau seperti saat ini? Bagaimana orang-orang bisa cukup tenang dan tetap bangga dengan kondisi bangsa yang seperti ini? Bagaimana mereka bisa membuat kekerdilan ini terlihat begitu glamor? Aku tidak bisa mencernanya sama sekali...[3]

 

Ya, keadaan masyarakat yang jatuh menjadi pengemis dan harus menengadahkan tangan di depan pintu orang lain, kondisi masyarakat yang sedang mengalami krisis keuangan, sosial, dan moral telah menciptakan kepedihan hebat di dalam hatiku. Namun, apa boleh buat! Aku mencoba untuk bersabar yang mengakibatkan rintihan penderitaannya berlipat ganda karena dililit oleh ketidakberdayaan. Di sisi lain, aku percaya bahwa semua peristiwa yang melahirkan kepedihan di hati seharusnya menciptakan ketegangan batin dalam diri kita sehingga nantinya bisa menjadi sarana bagi lahirnya kebangkitan bangsa. Aku percaya bahwa kita harus berpegang teguh pada harapan, usaha, dan anugerah Allah, bukan kepada keputusasaan, kelambanan, keletihan, dan keluh kesah yang terus-menerus.

 

Al-Ustaz Badiuzzaman memberikan resepnya: “Menghidupkan kehidupan agama selain merupakan cahaya, ia juga adalah adalah prinsip. Kebangkitan bangsa ini hanya akan terjadi melalui usaha menghidupkan agama”. Dengan kata lain, kebangkitan kita hanya dapat terwujud melalui keterkaitan kita kepada agama. Legenda kebangkitan tidak terwujud melalui penulisan, melainkan dengan terlibat langsung di tengah masyarakat, merasakan denyut nadi mereka, menggandeng tangannya, berjalan bersama-sama, mengajari mereka etika dan sopan santun di setiap persimpangan jalan bagaikan membesarkan anak supaya dapat hidup mandiri dan harmonis, sembari menunggu mereka tumbuh berkembang dengan kesabaran yang aktif.     

 

Sedari awal, aku hendak mengingatkan hal-hal tersebut. Sebagai seseorang yang telah mengarahkan pandangannya ke akhirat, sebagai seseorang yang sedang menantikan waktu kepergian dari dunia yang merupakan kampung pengabdian menuju tanah air Sang Kekasih, dengan tulus aku ingin mengatakan: ketika membahas topik kebangkitan umat dan bangsa, yang aku maksud adalah kebangkitan bangsa mulia ini pada posisi yang layak, yang jauh dari keinginan untuk mendirikan sebuah negara syariat, atau sebuah negara dengan ideologi partai ataupun faksionalisme tertentu, ataupun paham yang membuat bangsa ini saling menjatuhkan satu sama lain, yang terbebas dari keluhan materi, maknawi, duniawi, dan ukhrawi. Kebangkitan yang kumaksud adalah kebangkitan yang dicapai berkat keberhasilan kita membuang perasaan dan emosi negatif seperti ambisi, rasa malas, keinginan untuk menjadi terkenal dan populer, cinta kekuasaan, keegoisan dan kecintaan pada dunia, di mana hal-hal tadi dianggap sebagai penyebab nyata keruntuhan dan tercerai berainya kita sebagai sebuah bangsa; kebangkitan yang dicapai dengan sekali lagi menjadi individu yang memiliki kebajikan umum melalui akar dan hakikat kehidupan maknawi seperti istigna (tidak bersandar kepada sesuatu kecuali hanya kepada Allah semata), keberanian, rendah hati, isar, spiritualisme, semangat pengendalian diri, tidak mementingkan kepentingan pribadi, jiwa rabbani, dan kebenaran.

 

Seperti yang telah kusampaikan dalam berbagai kesempatan, seberapa pun canggihnya rencana yang kita buat bagi kehidupan bangsa, semangat kebangsaan tidak boleh dikorbankan demi rencana tersebut. Sebaliknya, semangat kebangsaan harus dipertahankan dengan lebih peka lagi seiring dengan modernisasi negara. Para ibu harus menyanyikan lagu pengantar tidur yang mengekspresikan semangat kebangsaan kepada anak-anak mereka dimulai sejak dalam buaian; para nenek harus menyampaikan dongeng dan hikayat yang sumber inspirasinya berasal dari masa lalu kita yang agung; lembaga-lembaga pengetahuan kita dalam setiap kesempatan harus menceritakan bangsa kita yang agung tetapi sedang bernasib tak mujur ini. Masa-masa ketika bangsa kita yang mulia namun teraniaya sedang mencari tempat bagi dirinya di antara awan-awan yang paling terang dan cemerlang harus diekspresikan dengan cara yang paling menarik. Sastra kita harus diliputi oleh semangat dan pemikiran patriotisme. Di atas mimbar, podium, dan forum ilmiah, para penceramah, para khatib, dan para narasumber harus berpikir seperti bangsa ini, bersemangat seperti bangsa ini, berbicara seperti bangsa ini, bersukacita seperti bangsa ini, dan peduli seperti bangsa ini…

 

Mereka harus peduli dengan para jenius yang menggeluti ilmu pengetahuan alam hingga pengetahuan agama; peduli dengan para jenius yang menggeluti ilmu mantik hingga ilmu tasawuf; peduli pada para jenius yang meneliti eksistensi di semua bidang, mulai dari estetika hingga planologi. Semoga dunia ini, yang selalu berjalan jauh di depan zamannya bersama para pahlawan logika dan intelejensia serta para jenius seni estetikanya. Setelah jeda sementara ini, mereka nantinya akan mampu memobilisasi semua semangat dan pikiran cemerlangnya sekali lagi dan mewujudkan renaisans yang kedua atau ketiga. 

 

Mengupayakan kebangkitan dalam pengertian ini sebagai sebuah bangsa adalah tanggung jawab dan tugas yang dibebankan agama kepada kita. Ini adalah tugas yang diungkapkan dengan istilah amri bi'lmaruf, nahi ani'lmunkar, yaitu memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah keburukan. Secara kamus, kata "makruf" yang berarti "dikenal semua orang dan masyhur" bermakna sebagai sesuatu yang diperintahkan oleh Allah jalla jalaluhu, sesuatu yang Dia anggap baik, dan sesuatu yang dianggap menyenangkan dan indah oleh akal yang sehat. Hal-hal yang ditolak dan tidak dapat diterima, tidak menyenangkan, tidak enak, jelek, asing bagi fitrah manusia, berlawanan dengan keseimbangan alam, dan sesuatu di mana semua pintu menolak disebut sebagai "munkar".

 

Tugas amar makruf nahi munkar adalah jalan yang menuntun kita menuju tujuan penciptaan. Sedangkan Nabi kita shallallahu alaihi wasallam adalah Pemimpin bagi Dua Dunia yang untuknya-lah alam semesta ini diciptakan. Tujuan diutusnya beliau adalah tablig. Sedangkan inti dari tablig adalah amar makruf nahi munkar. Dengan kata lain, dalam arti tertentu, eksistensi diciptakan untuk urusan ini. Tidak diragukan lagi, urusan ini yang merupakan tujuan penciptaan eksistensi, adalah pekerjaan yang paling penting dan merupakan tugas yang harus dilakukan oleh setiap Muslim. 

 

Tugas besar ini ditegaskan dan diperkuat oleh banyak ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi. Di antaranya adalah firman Allah berikut ini: “Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, mengajak kepada yang makruf, dan mencegah yang mungkar.” (QS. Âli ‘Imrân: 104). Demikian juga firman-Nya berikut ini: “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah…” (QS. Âli ‘Imrân: 110). Selain itu, terdapat sabda Nabi ﷺ berikut ini: “Kalian benar-benar harus memerintahkan yang makruf dan mencegah yang mungkar; jika tidak, Allah akan menguasakan atas kalian orang-orang terburuk di antara kalian. Setelah itu, yang tua tidak lagi dihormati dan yang muda tidak lagi disayangi. Orang-orang terbaik di antara kalian berdoa, tetapi doanya tidak dikabulkan; kalian beristigfar, tetapi kesalahan tidak diampuni; kalian memohon pertolongan, tetapi pertolongan tidak datang.”[4][5]dalam hadis lainnya beliau bersabda: “Semua ucapan anak Adam pada hakikatnya akan berbalik menjadi hujjah atas dirinya bukan untuk membela dirinya kecuali ucapan yang memerintahkan kebaikan, mencegah kemungkaran, dan mengingat Allah.”[6][7] Hadis-hadis ini hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak dalil tentang hal tersebut.

 

Selain itu, setiap ayat Al-Qur’an sesungguhnya bersifat wajiz (padat makna dan sarat pesan). Ketika membahas ayat ke-90 dari Surah An-Nahl sebagai ayat yang merangkum konsep makruf dan mungkar secara sangat komprehensif di mana kandungannya tidak akan cukup jika dijelaskan dalam satu jilid buku sekalipun, Ibnu Mas‘ud r.a. menjelaskannya sebagai berikut, “Tidak ada ayat yang lebih menghimpun kebaikan dan keburukan selain ayat ini: ‘Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia (juga) melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pelajaran kepadamu agar kamu selalu ingat.’[8] (QS. An-Nahl: 90)

 

Setelah menyebutkan tiga perintah yang menjadi fondasi bagi kemaslahatan umum, ternyata hal pertama yang dilarang adalah fahisyat (perbuatan keji). Boleh jadi karena baik dalam skala individu maupun sosial, hampir seluruh kemungkaran awal mulanya bersumber dari fahisyat. Oleh karena itu, ia didahulukan penyebutannya. Fahisyat ini mencakup segala bentuk pengumbaran syahwat, gaya hidup bebas dan bohemian, serta berbagai hal yang mengedepankan sisi kebinatangan manusia, baik yang disebarkan melalui media massa, novel, cerita, maupun puisi. Setelah itu disebutkanlah munkar, yaitu segala sesuatu yang dipandang buruk dan tidak sah menurut Islam dan akal sehat. Selanjutnya, yang ketiga adalah baghy, yakni sikap melampaui batas dan kezaliman, yang cakupannya sangat luas: mulai dari menzalimi diri sendiri, durhaka kepada orang tua, memberontak terhadap negara hingga merusak ketertiban masyarakat, bahkan sampai pada pengingkaran Allah ﷻ. Dengan demikian, dijelaskan bahwa kehidupan beragama yang sehat hanya bisa terwujud melalui prinsip-prinsip ini, dan sebuah bangsa pun hanya dapat bangkit dan hidup kembali dengan berpegang teguh pada nilai-nilai tersebut.

 

Dalam ayat yang lain, Allah ﷻ berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul (Nabi Muhammad) apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu!” (QS. Al-Anfâl: 24). Untuk mencapai kehidupan yang sejati, yaitu kehidupan yang benar-benar dirasakan dan dihayati, manusia diperintahkan agar bersegera memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya. Perintah ini begitu penting dan sensitif sehingga diriwayatkan bahwa pada suatu hari terdapat seorang sahabat Nabi yang bernama Abu Sa'id bin Mu'la r.a yang sedang melaksanakan salat ketika Rasulullah ﷺ memanggilnya. Karena sedang salat, ia mengira akan lebih baik jika dirinya menyelesaikan salat terlebih dahulu, baru kemudian menjawab panggilan Rasul dengan ucapan, “Labbayk, ya Rasulullah.” Namun Rasulullah ﷺ bersabda, “Aku memanggilmu, mengapa engkau tidak segera datang?” Ia pun menjawab, “Wahai Rasulullah, aku sedang salat.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidakkah engkau mendengar firman Allah: اسْتَجِيْبُوْا لِلّٰهِ وَلِلرَّسُوْلِ اِذَا دَعَاكُمْ ‘Apabila Allah dan Rasul memanggil kalian, maka penuhilah seruan itu’? Jika dipanggil, hendaknya engkau menghentikan aktivitasmu meski kegiatan itu adalah salat sekalipun dan bersegeralah untuk memenuhi panggilan Nabi.”[9] Sementara itu, menegakkan yang makruf serta mengambil sikap tegas terhadap kemungkaran merupakan wujud nyata dari menjawab seruan Rasulullah. Amar makruf nahi munkar adalah persoalan yang sangat penting, baik pada tataran individu maupun masyarakat. Ia adalah kewajiban yang urgensinya melampaui kewajiban-kewajiban yang lain.

 

Sebagaimana telah saya sering saya bahas sebelumnya bahwasanya Allah ﷻ berfirman: “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 110). Melalui ayat ini, Allah ﷻ menunjukkan jalan untuk bisa menjadi masyarakat yang penuh dengan kebaikan. Pada bagian awal ayat disebutkan كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ  yang berarti “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” Pernyataan ini kemudian diikuti oleh kalimat berikutnya yang berfungsi menjawab pertanyaan tersirat yang disampaikan melalui jumlah isti'nafî[10] : “mengapa umat ini disebut sebagai umat terbaik?”. Oleh karena hubungan antara kedua kalimat ini sangat erat dan utuh, maka tidak digunakan kata sambung. Ia langsung dilanjutkan dengan penjelasan: “(itu karena) kalian menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah..”

 

Kata kerja yang digunakan dalam ayat ini juga menunjukkan makna kesinambungan dan keberlanjutan. Artinya, kalian disebut sebagai umat terbaik karena keberlanjutan komitmen untuk terus menegakkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, baik pada hari ini maupun esok nanti. Dengan cara inilah, jalan menuju predikat umat terbaik diperlihatkan secara jelas. Penemuan ilmiah, berbagai inovasi, serta kemajuan di bidang sosial dan ekonomi tentu sangat penting. Namun, tidak ada yang lebih penting daripada amanah ini. Seandainya ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan hal yang paling utama, tentu Allah akan mengutus nabi-nabi khusus, misalnya nabi teknologi, nabi sains, atau nabi kebangkitan peradaban manusia. Kenyataannya, tugas utama para nabi mulai dari yang pertama hingga khatamul anbiya adalah menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Para nabi berusaha membebaskan manusia dari dominasi dorongan-dorongan insani yang melekat pada tabiatnya, lalu mengangkat mereka ke dalam wilayah ilahi. Mereka juga berupaya menghilangkan berbagai penghalang yang bersifat material dan jasmani yang memutus hubungan antara hati manusia dengan Allah subhanahu wa ta’ala sehingga nantinya terwujud perjumpaan sejati antara manusia dengan Tuhannya. Inilah tujuan suci yang senantiasa mereka perjuangkan.

 

Sekarang, mari kita kembali menengok keadaan kita. Ya, terdapat perasaan perih di hati, kepedihan batin, serta kegelisahan karena tidak sanggup menerima keadaan bangsa kita yang kini serba kekurangan dan terpuruk. Semua renungan itu baru bernilai apabila mampu mendorong kita untuk meluruskan kembali arah bangsa ini, menegakkan kembali bangunan ruhnya, dan mengembalikannya kepada jati dirinya yang sejati. Dengan berpegang pada apa yang oleh Al-Qur’an diperintahkan sebagai hal makruf dan apa yang harus dijauhi sebagai hal munkar, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menegakkan kembali profil asli, membangun kembali tugu ruhani bangsa, lalu setelah itu mencurahkan segala daya, waktu, dan kesungguhan sesuai dengan kadar yang diharapkan oleh amanah suci ini. Jika pusaran kesedihan yang ada dalam diri kita mampu menyeret kita pada perjuangan yang bersungguh-sungguh layaknya seorang mujtahid dan bahkan mujaddid atau bahkan pada saat-saat tertentu sanggup mendorong kita untuk mengabdi kepada bangsa ini dengan tekad yang bernuansa kenabian, maka kesedihan itu berarti memiliki nilai.

 

Dalam menegakkan kembali bangunan ruh suatu bangsa, hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah menjaga dan memelihara esensi, tabiat, serta karakter bangsa. Sebuah bangsa bisa saja berbeda dari bangsa-bangsa lain. Namun, perbedaan itu tidak menghalanginya untuk hidup selaras dan berdialog dengan siapa pun. Seseorang dapat bergaul akrab dengan semua orang, tetapi hal itu baru benar-benar bernilai ketika ia tetap menjadi dirinya sendiri. Jika ia kehilangan jati diri, terasimilasi, dan melebur tanpa sisa ke dalam jati diri orang lain, maka pembahasan tentang kebaikan dan keburukannya tidak lagi relevan, apalagi tentang sikap toleran dan penerimaannya terhadap orang lain. Sebab, apa lagi yang hendak ia toleransi, sementara ia sendiri telah lenyap dalam jati diri orang lain? Seseorang hanya bisa benar-benar bersikap terbuka dan toleran apabila ia tetap teguh memegang seluruh ciri khas dan nilai dirinya tanpa mengorbankannya sedikit pun, tetapi pada saat yang sama ia mampu membuka diri seluas-luasnya untuk sesama manusia. Intinya, hiduplah dengan toleransi kemanusiaan yang sedemikian rupa sehingga tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini yang tidak bisa diajak berdialog. Prinsip yang berlaku bagi individu ini juga berlaku bagi sebuah bangsa. Inilah makna kebangkitan yang sejati. Dan Ustaz merumuskannya dalam satu kalimat yang sangat padat makna: “Kebangkitan sebuah bangsa hanya mungkin terwujud melalui kebangkitan agama.”[11]

 

Ya, kita harus mengerahkan seluruh perhatian dan energi kita bukan untuk terus-menerus merasa terganggu oleh hal-hal negatif, marah ke sana-kemari, memendam kebencian terhadap sesama, atau berteriak dan meluapkan emosi yang pada akhirnya hanya akan menguras tekad dan melelahkan diri kita sendiri. Sebaliknya, seluruh daya dan upaya itu semestinya diarahkan untuk menghabiskan persoalan, bukan menghabiskan diri. Kita perlu menimba kekuatan dari dua arah. Di satu sisi, dari kepekaan kita terhadap berbagai hal negatif yang memang patut diperbaiki. Di sisi lain, dari setiap tanda harapan dan pertimbangan positif yang bisa kita temukan. Dengan mengarahkan “aliran air” kepada tekad kita melalui dua jalur ini, seluruh kekuatan dan kesungguhan akan dapat dihimpun. Dengan keteguhan ala nabi, kita kemudian mendedikasikannya untuk membangkitkan dan menghidupkan kembali jiwa dari umat masyarakat.

 

Setiap anak bangsa semestinya memiliki perhitungan dan rencana hidup. Siapa pun yang mencintai negeri dan bangsanya seharusnya berkata dalam hati: “Jika aku menanamkan investasi sekian, mengerahkan energi sebesar ini, memanfaatkan arah zaman yang sedang berhembus, lalu meningkatkan kecepatan sampai titik tertentu, maka dalam rentang waktu sekian aku akan meniti jalan ini.” Dengan cara itulah, seseorang bisa menjadi bagian dari proses pembangunan nasional pada posisi apa pun ia berada. Ambil contoh seorang guru. Ia perlu memikirkan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membina seorang murid. Ia harus memperhitungkan  berapa banyak umur yang dibutuhkan untuk mengangkat potensi manusia menjadi sesuatu yang nyata dan bermanfaat bagi kemanusiaan. Jika dilihat dari sisi pendidikan semata, terdapat jenjang sekolah dasar dan menengah pertama, kemudian sekolah menengah atas, perguruan tinggi, hingga jenjang magister dan doktor yang kini semakin dipandang penting. Seorang pendidik seharusnya mempertimbangkan seluruh proses ini, bahkan memperhitungkan berbagai peristiwa dan tantangan yang kelak akan dihadapi muridnya sepanjang hidup. Sejak awal, ia mempersiapkan peserta didiknya agar siap menapaki masa depan. Dengan demikian, ia pun turut berkontribusi dalam mengantarkan bangsanya melangkah menuju hari esok yang lebih baik.

 

Dalam persoalan ini, ada satu hal yang sangat penting untuk dicermati: kebangkitan bangsa kita sejatinya juga berarti kebangkitan bangsa-bangsa lain yang selama ini berjuang dengan penuh pengorbanan sehingga nantinya mereka pun dapat bangkit dan melangkah kembali dalam kehidupan. Kebangkitan bangsa Turki memiliki makna yang sangat besar dalam upaya membentuk ulang wajah dunia masa depan. Izinkan saya mengaitkannya dengan satu hal yang kerap saya sampaikan: modal kolektif alam bawah sadar bangsa Turki sangatlah kaya. Selama sembilan abad, bangsa ini telah menjalankan misi sebagai pengayom dunia Islam dan karena itu ia menempati posisi yang kuat dalam alam bawah sadar bangsa-bangsa lain.

 

Memang ada sebagian orang yang menolak pendapat ini karena rasa iri atau ketidakmampuan menerima fakta. Ada pula yang berkata, “Mengapa mereka, bukan kita?”. Para Sahabat Nabi yang berasal dari bangsa Arab memang menunjukkan hasil yang sangat cepat dan gemilang. Namun, sebagaimana kita ketahui, masa kejayaan yang luar biasa itu secara keseluruhan hanya berlangsung sekitar tiga puluh tahun. Jika kemudian ditambahkan periode Bani Umayyah dan Abbasiyah, totalnya pun ada sekitar tiga abad. Setelah itu, barulah bangsa Turki tampil mengambil peran. Bagi kita, kehadiran Rasulullah ﷺ dan risalah beliau di tengah umat manusia dan posisi kita yang beruntung menjadi bagian dari umat yang menerima pesan itu sebenarnya sudah merupakan kehormatan yang amat besar. Bangsa Arab, sebagai bangsa tempat beliau lahir tentu berhak mengatakan, “Kami adalah bangsa yang mulia dan memiliki nilai yang sangat tinggi.” Pernyataan itu benar adanya, karena manusia paling mulia dan sang kebanggaan seluruh umat manusia lahir dari kalangan mereka. Namun, bangsa ini pun juga beruntung karena dapat berkata: “Beliau adalah Nabi kami. Kami siap mengorbankan jiwa dan raga untuknya. Allah juga telah menganugerahkan kepada kami akar bangsa yang begitu kokoh di mana dengan pondasi tersebut kami mengibarkan panji Rasul-Nya di puncak-puncak tertinggi, menjadi pengayom bagi dunia Islam, serta menjaga agama ini dari berbagai serangan yang datang dari segala penjuru, termasuk dari timur dan barat, dari utara dan selatan, dari Cina dan wilayah-wilayah jauh, dari India hingga Yaman selama sembilan abad penuh.” Inilah kenyataannya. Meskipun kejayaan itu pada hari ini tidak tampak, tetapi kenangan-kenangan hari-hari di mana peristiwa-peristiwa itu terjadi di masa lalu telah meresap dan terpatri kuat di alam bawah sadar dunia Islam. Orang-orang yang bersikap adil pun pada akhirnya mengakui kenyataan ini.

 

Ya, suatu hari kelak bangsa ini akan tersadar dan bangkit. Ia akan mengalami metamorfosis terakhirnya, lalu berkembang dan tersusun sesuai dengan jati dirinya. Jika memang ia berhak untuk “terbang di langit”, maka ia tidak akan lagi merayap di kulit-kulit pohon seperti ulat, melainkan berubah menjadi kupu-kupu yang mengepakkan sayap dan terbang bebas di angkasa. Ketika saat itu tiba, bangsa-bangsa lain yang selama ini menirunya dalam keburukan dan penyimpangan akan mulai menirunya pula dalam perkara kebaikan dan nilai-nilai yang makruf, lalu mengikuti tapak langkahnya. Dengan demikian, kebangkitan bangsa ini bukan hanya kebangkitan satu bangsa semata, melainkan juga kebangkitan dunia Islam yang pada akhirnya akan berkontribusi pada terciptanya keseimbangan dunia secara keseluruhan. Masalahnya, persoalan yang dihadapi saat ini tidak hanya ada satu. Bangsa ini pada hari ini memikul kesedihan karena merasa dirinya adalah yatim. Ia juga merasakan kepedihan yang diakibatkan permusuhan dan tercerai-berainya dunia Islam. Kepedihannya pun berasal dari kerinduan akan dunia yang seimbang akibat rusaknya tatanan global. Selama bangsa ini belum mampu melepaskan diri dari seluruh rasa “keyatiman” tersebut secara sekaligus, selama itu pula ia akan terus hidup dalam keadaan sebatang kara. Karena itulah, kebangkitan bangsa ini menjadi sangat penting.

 

Barangkali ada yang bertanya, “Mengapa semua ini dikaitkan dengan bangsa Turki? Bukankah itu berarti SARA?” Padahal, Anatolia bukanlah bangsa yang dapat direduksi menjadi satu ras semata. Masyarakat Anatolia terdiri dari beragam latar belakang: ada yang Laz, ada Bangsa Georgia, ada yang Kurdi; sebagian datang dari Asia, sebagian dari Mesopotamia, dan sebagian lagi dari Balkan. Dari beragam asal-usul itulah lahir sebuah mozaik bangsa yang memiliki ciri-ciri kebangsaan yang justru kini banyak dicari. Hari ini, Turki menjadi tanah bagi tumbuhnya sebuah bangsa yang mulia. Ia terbentuk dari manusia-manusia yang saling terikat dan menyatu. Maka ketika saya menyebut “bangsa kita”, saya sama sekali tidak bermaksud rasis, melainkan merujuk pada seluruh masyarakat Anatolia tanpa kecuali.

 

Semoga Allah Yang Mahamulia menganugerahkan kepada kita keberhasilan untuk mewujudkan kebangkitan semacam ini, yaitu sebuah kebangkitan di mana setiap anggota bangsa ikut ambil bagian di dalamnya. Urusan ini membutuhkan kerja bersama. Tidak setiap orang selalu mampu meraih keberhasilan dalam usahanya; ada yang jatuh, ada pula yang tersandung. Namun, kita berdoa, “Ya Rabb, terimalah apa yang kami lakukan ini sebagai amal jamaah.” Di antara kita ada yang unggul dalam keberanian; yang lain cerdas dan pandai menggunakan akalnya; ada pula yang memiliki jiwa dedikasi yang tinggi; sementara yang lain kuat dalam keteladanan dan penyambutan. Ketika semua itu dipertemukan, kita kemudian saling bergandeng tangan, menyatukan potensi, dan bahkan mengesampingkan ego-ego pribadi demi tujuan bersama.

 

Keadaannya mirip seperti saat Rasulullah ﷺ mengumpulkan makanan yang jumlahnya sangat sedikit lalu memberkahinya dengan tangan beliau yang mulia sehingga mampu mencukupi dan mengenyangkan ratusan bahkan ribuan orang. Hidangan yang sejatinya hanya cukup untuk beberapa orang menjadi cukup untuk banyak orang, berkat izin dari Allah. Demikian pula dengan kita. Apa pun yang kita miliki, kita keluarkan dengan penuh ketulusan. Kita pun saling bergandengan tangan sebagai sebuah bangsa lalu berharap supaya tangan terbaik berkenan menyertai kebersamaan kita. Jika Allah menghendaki, Dia akan menganugerahi persatuan itu dengan anugerah qutbiyah dan ghautsiyah. Oleh karena itu, kebangkitan kita sepenuhnya bergantung pada semangat kebersamaan dan gotong royong.

 

 

 

[1] Bayezid I adalah Sultan Utsmaniyah yang berkuasa antara tahun 1389-1402. Ia adalah putra Murad I dan Gülçiçek Hatun. Bayezid dikenal sebagai sosok yang memiliki cita-cita melakukan perluasan wilayah Utsmani. Oleh karena itulah dia menaruh perhatian besar pada masalah kemiliteran. Hanya dalam jangka waktu setahun, banyak negara yang berhasil diintegrasikan ke dalam pemerintahan Utsmani. Dalam geraknya Bayezid I digambarkan laksana kilat di antara dua front Balkan dan Anatolia. Oleh karena itu, dia diberi gelar "Sang Kilat" (Turkish: Yıldırım). Dia juga menghimpun satu dari pasukan terbesar dan terbanyak pada masa itu guna melakukan pengepungan terhadap Konstantinopel, meski misi tersebut pada akhirnya tidak berhasil. 

 

[2] Selim I adalah penguasa Utsmani kesembilan dan berkuasa pada tahun 1512 sampai 1520. Watak dan kepribadiannya yang keras menjadikannya mendapat julukan Yavuz Sultan Selim (Yavuz sendiri dapat dimaknai dengan "keras", "teguh", atau "tegas"). Di masa kekuasaannya yang terbilang singkat, Utsmani mengalami dua peristiwa besar yang sangat memengaruhi keberjalanan keadaan Timur Tengah pada masa-masa selanjutnya. Kemenangan Utsmani dalam Pertempuran Chaldiran membendung laju perkembangan Syiah yang bangkit seiring menguatnya Wangsa Safawiyah di kawasan Iran dan sekitarnya. Penaklukannya atas Kesultanan Mamluk menjadikan wilayah Utsmani meluas secara dramatis lantaran kawasan Syam, Mesir, dan Hijaz menjadi dalam kekuasaan Utsmani. Jatuhnya Mamluk menjadikan kepemimpinan kota Makkah dan Madinah yang berada di wilayah Hijaz beralih ke tangan Utsmani, sehingga Selim kemudian menyandang gelar Ḫādimü'l-Ḥaremeyn (خادم الحرمين الشريفين) atau "Pelayan Dua Tanah Haram" dan gelar ini diturunkan kepada para penerusnya. Seiring keruntuhan Mamluk juga diikuti penyerahan kedudukan khalifah oleh Al Mutawakkil kepada Selim, menjadikan Selim sebagai khalifah pertama dari Wangsa Utsmani dan non-Arab.

 

[3] Diterjemahkan dari artikel: https://fgulen.com/tr/eserleri/kirik-testi-1/milletimizin-ihyasi 

 

[4]  

عن حذيفة بن اليمان رضي الله عنهما عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: وَالَّذِي نَفسِي بِيَدِه، لَتَأْمُرُنَّ بِالمَعرُوف، وَلَتَنهَوُنَّ عَنِ المُنْكَر؛ أَو لَيُوشِكَنَّ االله أَن يَبْعَثَ عَلَيكُم عِقَاباً مِنْه، ثُمَّ تَدعُونَه فَلاَ يُسْتَجَابُ لَكُم 

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hendaknya kalian benar-benar mengajak kepada yang makruf dan benar-benar mencegah dari yang munkar atau jika tidak, niscaya Allah akan mengirimkan hukuman/siksa kepada kalian sebab keengganan kalian tersebut, kemudian kalian berdoa kepada-Nya namun doa kalian tidak lagi dikabulkan.” (HR Tirmidzi).

 

[5] Ahmad bin Hanbal, Al-Musnad, V/390; Ibnu Abi Syaibah, Al-Mushannaf, VII/460, 530. 

 

[6]كَلَامُ ابْنِ آدَمَ كُلُّهُ عَلَيْهِ لَا لَهُ مَا خَلَا أَمْرًا بِمَعْرُوفٍ أَوْ نَهْيًا  عَنْ مُنْكَرٍ أَوْ ذِكْرَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Perkataan anak Adam akan membahayakan dirinya, tidak memberikan manfaat bagi dirinya, kecuali perkataan itu berupa zikrullah, atau menganjurkan kebajikan, atau melarang perbuatan mungkar”.

 

[7] Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (Zuhud: 63) dan Ibnu Majah (Fitan: 12).

 

[8] Ibn Kathīr dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, dan al-Qurṭubī dalam al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān. Bisa dilihat juga di https://tafsirweb.com/4438-surat-an-nahl-ayat-90.html 

 

[9]  عَنْ أَبِي سَعِيدِ بْنِ الْمُعَلَّى قَالَ:

كُنْتُ أُصَلِّي فَدَعَانِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فَلَمْ أُجِبْهُ، ثُمَّ أَتَيْتُهُ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي كُنْتُ أُصَلِّي.

فَقَالَ:

«أَلَمْ يَقُلِ اللَّهُ: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ﴾»

ثُمَّ قَالَ:

«لَأُعَلِّمَنَّكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ فِي الْقُرْآنِ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنَ الْمَسْجِدِ»

فَأَخَذَ بِيَدِي، فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَلَمْ تَقُلْ لَأُعَلِّمَنَّكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ فِي الْقُرْآنِ؟

قَالَ:

«الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ»

Aku sedang salat, lalu Rasulullah memanggilku, tetapi aku tidak segera menjawabnya. Setelah itu aku mendatangi beliau dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, tadi aku sedang salat.’Beliau bersabda, ‘Bukankah Allah telah berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila Dia menyeru kalian kepada sesuatu yang memberi kalian kehidupan (QS. al-Anfâl: 24)?’ Kemudian beliau bersabda, ‘Sungguh, aku akan mengajarkan kepadamu surah yang paling agung dalam Al-Qur’an sebelum engkau keluar dari masjid.’ Lalu beliau memegang tanganku. Ketika beliau hendak keluar, aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, bukankah engkau berjanji akan mengajarkan kepadaku surah paling agung dalam Al-Qur’an?’. Beliau bersabda, ‘(Surah itu adalah) Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamîn (Surah al-Fâtihah). Ia adalah as-sab‘ul matsânî dan Al-Qur’an yang agung yang dianugerahkan kepadaku.’” Hadis Riwayat al-Bukhari, Tafsir al-Qur’an, tafsir QS. al-Anfâl: 24; Fadâ’il al-Qur’an.

 

[10] Jumlah isti’nafî (الجملة الاستئنافية) adalah kalimat baru yang berdiri sendiri, yang tidak disambungkan secara gramatikal dengan kalimat sebelumnya, tetapi secara makna berfungsi menjelaskan, menegaskan, atau menjawab pertanyaan tersirat dari kalimat sebelumnya. Jumlah isti’nafî biasanya berfungsi untuk: (1) menjawab pertanyaan yang tersirat (su’âl muqaddar); (2) menjelaskan alasan atau hikmah, dan (3) memberi penegasan atau perincian atas pernyataan sebelumnya.

 

[11] Badiuzzaman Said Nursi, Sözler, hlm. 781 (Lemeât: Din ile Hayat Kabil-i Tefrik Olduğunu Zannedenler Felakate Sebeptirler-Orang-orang yang Mengira Agama dan Kehidupan Dapat Dipisahkan adalah Penyebab Bencana).

 

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2026 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.