Berhenti Menilai Orang lain dan Mulailah Mengoreksi Diri

Sebagian dari kita sayangnya masih gemar mencari-cari kesalahan orang lain dan mengadili mereka atas kekurangannya. Padahal yang seharusnya dievaluasi terlebih dahulu adalah kekurangan diri kita sendiri. Meskipun orang lain berlumuran lumpur kesalahan dan kita hanya sedikit ternodai olehnya, kita tetap tidak berhak untuk menghakiminya. Pertanyaan yang semestinya kita ajukan adalah evaluasi diri: ‘Mengapa tumitku sendiri sampai kotor ternoda lumpur kesalahan?’ Tenggelamnya orang lain dalam lumpur sejatinya bukan urusan kita. Yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa agar Allah menyelamatkannya tanpa menjerumuskan diri pada prasangka buruk, gibah, atau saling mencela. Jika kita belum mampu melepaskan diri dari berbagai harapan duniawi dan menyelaraskan kehendak kita sepenuhnya dengan kehendak Allah, berarti masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita benahi. Jika demikian, bagaimana mungkin kita punya waktu untuk mengoreksi kesalahan orang lain di saat kita sendiri memiliki banyak kealpaan?[1]

 

Dalam tradisi tasawuf, seorang murid pada suatu titik akan bertransformasi dan berubah menjadi murad.[2] Artinya, sepanjang hidup ia hanya akan menginginkan satu hal secara terus menerus, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala semata. Awalnya, ia adalah mürîd-Nya. Lalu, ia melepaskan dari dari sikap bersandar kepada kekuatan dirinya sendiri untuk kemudian sepenuhnya tunduk pada kehendak Zat Yang Mahakuasa. Ketika sampai pada tingkat tertentu, ia kemudian benar-benar bertransformasi menjadi murad. Di tingkatan ini, dirinya hanya akan dipenuhi oleh Kehendak Allah subhanahu wa ta’ala semata. Dia akan menutup diri dari mā siwā, yaitu segala sesuatu selain Diri-Nya. Tidak tersisa lagi keinginan untuk mencari sesuatu selain keridaan-Nya. Dengan keadaan seperti itu, ia pun menjadi hamba yang dicintai, diperhatikan, dan diridai Allah. Jiwanya akan menjadi jiwa yang beruntung. Dengan demikian, jika kita belum bisa menjadi murad-Nya Allah, bagaimana mungkin suatu amanah besar akan dipercayakan kepada kita? Oleh karena itu, dalam urusan ini kita seharusnya merasa takut dan gemetar. Setiap kali meraih keberhasilan atau amanah baru, kita perlu mengevaluasi diri dengan bertanya apakah kita benar-benar layak untuk menerima anugerah tersebut? Sikap dan perilaku kita harus diteliti dengan sangat cermat seakan kita mengamatinya dengan sebuah kaca pembesar. Kita perlu terus mengoreksi kekurangan dan cacat diri sendiri dengan pertanyaan, “Sudahkah aku menunaikan syukur dan bersikap setia atas limpahan anugerah-anugerah Ilahi ini?” Al-Muhasibi bahkan menganggap lintasan pikiran sesaat untuk menilai orang lain melalui anggapan, ‘Apa memang benar orang itu lebih baik…’ sebagai dosa yang amat besar. Al-Muhasibi merasa tersiksa oleh lintasan semacam itu dan segera berkata, “Jika pikiranku benar-benar bersih, mengapa kotoran seperti ini masih bisa singgah di benakku?” Ia senantiasa sibuk bermuhasabah, bukan hanya atas perbuatan dan sikap, tetapi juga atas bisikan-bisikan batin yang sempat melintasi pikirannya. Oleh sebab itu, prinsip hidup yang semestinya kita pegang adalah menegur dan mengoreksi diri sendiri, yakni dengan mengadili pikiran kita yang masih terikat oleh mā siwā. 

 

 

 

[1]  Diterjemahkan dari artikel: https://fgulen.com/tr/eserleri/kirik-testi-1/baskalarini-degil-kendimizi-sorgulama 

 

[2]  Secara harfiah, murîd berarti “orang yang menghendaki”. Dalam tasawuf, murîd adalah orang yang secara sadar memilih jalan spiritual, masih memiliki kehendak diri (iradat), dan sedang berusaha menundukkan egonya untuk menuju kehendak Allah. Ia masih menginginkan Allah, tetapi belum sepenuhnya “dikehendaki” oleh-Nya. Jika boleh, murîd bisa didefinisikan sebagai seorang pencari jalan ruhani yang masih berjuang mengarahkan kehendaknya agar selaras dengan kehendak Allah. Sementara itu, secara harfiah murâd berarti “yang dikehendaki”. Dalam tasawuf, murâd adalah hamba yang kehendaknya telah luluh, ia tidak lagi mengejar Allah dengan ambisi spiritual, melainkan dipilih dan diarahkan oleh kehendak Allah. Murâd tidak lagi “menginginkan”, tetapi “diinginkan”. Dengan demikian, jika boleh murâd dapat didefinisikan sebagai hamba yang telah menyerah dengan seluruh kehendaknya sehingga hidupnya digerakkan oleh kehendak Allah semata.

 

 

 

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2026 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.