Keseimbangan antara Mencari Rezeki dan Pengabdian Agama
Seorang mukmin adalah pribadi yang seimbang. Hati yang beriman harus mampu menjaga diri di semua bidang agar tidak terjatuh pada sikap berlebihan maupun meremehkan. Titik keseimbangannya terletak pada pemberian perhatian kepada dunia sebatas durasi kita tinggal di dunia, dan memberi perhatian kepada akhirat sebesar lamanya kita nanti tinggal di sana. Oleh karena itu, keterikatan kita dengan dunia sejatinya ditujukan untuk menampakkan kemuliaan Islam, menyampaikan kebenaran-kebenaran yang bernilai laksana permata, serta memperkenalkan jalan terang ini kepada orang lain. Ketika tujuan utama kita adalah hal tersebut, maka sesekali melirik dunia dengan pandangan yang seperlunya justru merupakan bagian dari pengabdian pada cita-cita yang luhur ini.[1]
Ya, kita berkewajiban menyelaraskan diri dengan firman Allah: “Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (QS. Al-Qashash [28]: 77).” Dalam ayat mulia tersebut, Al-Qur’an menggunakan kata kerja ibtiġā ketika memerintahkan kita untuk mencari negeri akhir yang artinya “arahkanlah seluruh jiwa dan ragamu ke arah akhirat dan hargailah akhirat dengan nilai yang layak, yaitu sebesar kemuliaan kedudukan yang dimilikinya. Dari sini dapat dipahami bahwa seluruh kemampuan dan potensi seharusnya dikerahkan untuk meraih akhirat. Sementara untuk urusan dunia, kita tetap berpegang pada prinsip untuk tidak melupakan bagian dunia yang menjadi jatah kita. Dengan demikian, keduanya ditempatkan secara proporsional: akhirat sebagai tujuan utama, sedangkan dunia sebagai bagian yang tidak boleh sepenuhnya diabaikan.
Di dunia ini, segala sesuatu selain mengenal Allah Ta‘ala, memperkenalkan-Nya kepada orang lain, serta menunaikan tugas dalam rangka meninggikan kalimat Allah adalah perkara-perkara sekunder dan tersier. Pekerjaan, penghasilan, pendidikan, pernikahan, tempat tinggal, dan rumah tangga, semuanya bukanlah tujuan urutan pertama, melainkan sarana penunjang bagi tujuan asli yang hakiki. Seorang mukmin semestinya menata hidupnya berdasarkan prinsip ini. Ia hendaknya berkata kepada dirinya: “Tujuan hidupku adalah menyebarkan agamaku. Namun, agar aku bisa bertahan hidup dan agar keluarga serta anak-anakku (jika ada) dapat tercukupi kebutuhannya, aku pun mengambil bagian secukupnya dari dunia yang fana ini. Aku mencukupkan diri dengan apa yang Allah anugerahkan kepadaku. Jika diberi sedikit, aku rida dan merasa cukup dengan yang sedikit itu. Jika diberi banyak, aku pun dipenuhi rasa syukur. Dengannya aku melayani agamaku, menginfakkannya di jalan itu, sekaligus memenuhi kebutuhan dan menafkahi keluargaku. Aku tidak bersikap tamak terhadap dunia. Seluruh ambisiku kucurahkan untuk meraih rida Allah, dan rida Allah itu kuupayakan melalui usaha meninggikan kalimat-Nya. Ambisiku memang besar, tetapi ia sepenuhnya tertuju pada upaya meraih rida Allah.” Ya, seorang mukmin seharusnya berpikir demikian dan menata hidupnya ke arah ini, yaitu dengan mendahulukan urusan akhirat. Ketika ia menepi sejenak untuk beristirahat, sisa ruang waktu itulah yang kemudian diisi dengan urusan-urusan duniawi.
Manusia, dari sisi bakat dan kemampuannya, memang diciptakan untuk mengemban tugas meninggikan kalimat Allah. Apabila ia menyia-nyiakan potensi-potensi istimewa yang Allah Ta‘ala karuniakan kepadanya untuk mengejar perkara-perkara dunia yang sepele, maka Allah ﷻ akan menegurnya dengan cara yang berlawanan dari tujuan yang tadinya ia kejar. Orang seperti ini boleh jadi terus berlari sepanjang hidupnya, tetapi sejatinya ia tidak maju selangkah pun. Hal ini karena Yang Mahamulia tidak menganugerahkan kemampuan luar biasa itu untuk meraih hal-hal duniawi yang remeh. Kenyataan hari ini pun menghadirkan contoh yang menyedihkan: sebagian orang yang telah menempuh pendidikan agama justru hidupnya terpuruk dan terseok-seok. Sayangnya, itu terjadi karena mereka tidak lagi memikirkan tugas menyampaikan agama, melainkan sibuk mengejar urusan-urusan dunia yang tidak bernilai. Padahal, dunia ini pada hakikatnya tidak layak dipikirkan sedemikian rupa.
Umur yang singkat ini toh akan berlalu, entah dengan cara yang satu atau jalan lainnya. Jika seseorang tidak mendapatkan pekerjaan yang lebih ringan, ia bisa bekerja sebagai pemecah batu. Jika kesempatan itu pun tidak ada, ia dapat mengambil cangkul, menunggu di tempat para pencari kerja berkumpul. Ketika kesempatan untuk bekerja di kebun atau mengolah sawah orang datang, maka dengan cara itu ia bisa mencukupi kebutuhan hidupnya. Selama niat dan ikhtiarnya adalah mencari rezeki yang halal, jenis pekerjaan yang dijalani atau bentuk kerja yang dilakukan bukanlah hal yang paling utama. Bagi seorang Muslim, tidak ada keharusan untuk hidup di lapisan atas atau menjalani kehidupan yang serba elit dan aristokrat. Namun, apabila Allah Ta‘ala berkenan melimpahkan kelapangan rezeki dan menganugerahkan berbagai kemudahan yang luar biasa, maka semua itu boleh dinikmati selama rasa syukur dan sikap rendah hati tetap dijaga.
Terkadang, terbukanya pintu-pintu dunia dan dilimpahkannya berbagai kenikmatan justru bisa berbalik merugikan manusia. Ada kalanya kelimpahan dan kemewahan membuat seseorang menjadi angkuh, kemudahan hidup menumbuhkan sikap manja, kenyamanan berlebihan melumpuhkan daya juang, dan gaya hidup yang serba mewah serta penuh hiasan perlahan mematikan ruh kehidupan. Padahal, jalan pengabdian kepada Sang Haq membutuhkan manusia-manusia yang hidup dan berdaya. Manusia yang hidup adalah mereka yang merasa cukup dengan beberapa potong roti kering, yang rela merebahkan kepalanya di atas batu keras, dan tetap berkata, “Segala puji bagi Allah, berkat karunia-Nya perut kami bisa kenyang dan karena anugerah-Nya kami mendapatkan tempat untuk beristirahat.”
Orang seperti ini akan terus melangkah tanpa teralihkan oleh peristiwa-peristiwa yang merugikan atau kesulitan-kesulitan yang menimpanya. Ia tidak larut dalam keputusasaan dan kemalasan. Tak pernah terpikir olehnya untuk berhenti di tengah jalan, apalagi berbalik arah. Ia akan terus berusaha membuka semua pintu yang harus dilewati tanpa kenal kata “tidak bisa”. Kondisinya pernah saya sampaikan sebagai perumpamaan: jika seekor semut tahu bahwa di dalam baja terdapat madu, ia akan datang dan berputar mengelilinginya selama berbulan-bulan. Ia mencari celah, menyemburkan air liur, serta berusaha mengikis dan melubangi baja itu. Jika Anda membuka benda-benda yang tadinya tertutup, di tempat yang paling tak terduga itu sering kali ditemukan semut. Itu karena semut-semut fokus pada tujuannya. Semut-semut akan menemukan pintu yang mengantarkannya ke sasaran, apa pun caranya. Demikian pula orang yang memiliki hati beriman. Ia akan mengunci dirinya pada tugas pengabdian dan tetap menunaikan apa yang menjadi kewajibannya dalam keadaan apa pun.
Dalam hal ini, ada tiga perkara yang sangat penting. Pertama, im‘ân an-nazhar, yakni memusatkan pandangan pada satu titik dan berkonsentrasi penuh secara batin dan pikiran. Kedua, iltisâq al-qalb, suatu konsentrasi yang melampaui sekadar fokusnya pikiran. Itulah kondisi di mana keterikatan hati begitu kuat, seakan hati terpaku pada perkara itu sehingga tak bisa berhenti memikirkannya. Setiap kali hati diajak berbicara, perkara itulah yang selalu hadir. Ketiga, tekad dan ikhtiar untuk tetap melanjutkan perjalanan, bahkan di bawah kondisi yang paling berat sekalipun. Ikhtiarnya bukan sekadar berusaha lolos dari kesulitan, melainkan berazam untuk terus berjalan di jalan yang telah dipilih.
Apabila tiga prinsip ini dijaga, seseorang mungkin saja beberapa kali tersandung dan jatuh tersungkur. Namun, ia akan bangkit kembali dan melanjutkan langkah menuju tujuan akhir. Jika satu pintu di hadapannya tertutup, ia tidak berhenti. Ia akan mencoba membuka sepuluh pintu lain, menggeser palang, dan berusaha membuka kuncinya. Ketika ia bertawajuh dengan sungguh-sungguh kepada Allah, Sang Pembuka segala pintu, ia akan menyaksikan bahwa sebagai ganti satu pintu yang tertutup, akan terbuka sepuluh pintu lain baginya.
Ya, yang menjadi tugas seorang hamba saleh adalah berdoa: “Yā Mufattiḥal-abwāb! Iftaḥ lanā khayral-bāb. Innaka Karīmun, Jawādun, Wahhāb. Wahai Allah, Pembuka segala pintu yang terkunci! Bukakanlah bagi kami pintu yang paling baik. Sungguh Engkau Maha Mulia, Maha Dermawan, dan Maha Pemberi karunia.” Lalu ia berserah diri kepada-Nya dan kembali menunaikan kewajiban yang menjadi bagiannya dengan penuh kesungguhan.
Dengan kriteria inilah para pewaris bumi semestinya memandang dan memanfaatkan dunia demi kepentingan akhirat mereka. Bila diperlukan, mereka harus siap melepaskan dan meninggalkan segala yang bersifat duniawi, bahkan mampu menanggalkan dunia dan segala kenikmatannya seperti melepas sepasang alas kaki untuk kemudian melangkah dengan kesiapan batin sambil berkata, “Yang aku butuhkan hanyalah Engkau, ya Allah.”
Allah Ta‘ala berfirman kepada Nabi Musa, “Fakhla‘ na‘layk, innaka bil-wâdil-muqaddasi Ṭuwâ, Lepaskanlah kedua terompahmu karena sesungguhnya engkau berada di lembah yang suci, yaitu Tuwa... (QS. Ṭâhâ [20]: 12).” Tanpa mengabaikan makna yang secara umum dipahami para mufasir, ayat ini dapat pula kita renungkan sebagai pesan bahwa segala sesuatu selain rida-Nya perlu dikeluarkan dari hati dan ditanggalkan, sebagaimana Nabi Musa yang diminta menanggalkan alas kakinya.
Ya, seorang mukmin harus senantiasa merasakan kehadiran-Nya di mana pun ia berada. Setiap saat ia harus mampu berkata, “Aku tidak membutuhkan dunia dan segala isinya.” Ia pun seharusnya menegaskan kesiapannya untuk mengorbankan apa pun demi Allah, dan pengakuan itu diikrarkan berkali-kali setiap hari. Saat bangun di pagi hari, ia berkata, “Aku adalah hamba-Mu yang tunduk, terikat, dan sepenuhnya berada dalam genggaman-Mu. Aku bersumpah tidak akan memisahkan diri dari-Mu. Sekalipun Engkau mengusirku, aku tetap tidak akan meninggalkan-Mu.” Karena khawatir janjinya melemah, ia memperbarui ikrar dan janji pada waktu zuhur; lalu mengulanginya lagi pada waktu asar; dan kembali menegaskan janji itu pada waktu magrib. Ketika hendak berbaring untuk tidur, sebagai ungkapan kewaspadaan hati, ia kembali berdiri dalam doa dan bermunajat: “Allahumma innî aslamtu nafsî ilaik, wa wajjahtu wajhî ilaik, wa fawwadhtu amrî ilaik, wa alja’tu zahri ilaik, raghbatan wa rahbatan ilaik. Lâ malja’a wa lâ manjâ minka illâ ilaik. Allâhumma âmantu bi kitâbika alladzî anzalta, wa nabiyyika alladzî arsalta. Allâhumma qinî ‘adzâbaka yawma tab‘atsu ‘ibâdak, Ya Allah, dengan penuh harap akan rahmat-Mu dan takut terhadap azab-Mu, aku menyerahkan diriku kepada-Mu, kuhadapkan wajahku kepada-Mu, kuserahkan seluruh urusanku kepada-Mu, dan kusediakan diriku bersandar hanya kepada-Mu. Tiada tempat berlindung dan tiada tempat menyelamatkan diri dari-Mu kecuali kepada-Mu. Ya Allah, aku beriman kepada kitab yang Engkau turunkan dan kepada Nabi yang Engkau utus. Ya Allah, lindungilah aku dari azab-Mu pada hari Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu.” Dengan munajat ini, ia menegaskan pengakuannya sebagai hamba Allah dan berlindung sepenuhnya kepada-Nya, sekaligus menunjukkan kesetiaan dan loyalitasnya kepada Rasulullah, Nabi penutup para rasul.
Apabila seorang hamba menata hidupnya dengan cara seperti ini, yaitu memberi perhatian kepada dunia sebatas umur yang akan ia jalani di sini, dan memberi nilai kepada urusan akhirat sebesar lamanya ia akan tinggal di sana, serta memperbarui ikrar pengabdiannya kepada Allah beberapa kali setiap hari, maka ia telah berhasil menegakkan keseimbangan antara dunia dan akhirat. Lebih dari itu, hamba yang demikian akan menyaksikan hikmah dalam setiap peristiwa yang ia alami, sebagaimana diungkapkan oleh Ibrahim Hakkı Hazretleri:
Saat tiada lagi jalan terbuka,
Pelan-pelan tabir tersingkap jua;
Setiap luka pun menemukan obatnya,
Mari kita saksikan apa kehendak-Nya,
Apa pun yang Dia tetapkan adanya,
Selalu indah pada akhirnya.
[1] Diterjemahkan dari artikel: https://fgulen.com/tr/eserleri/kirik-testi-1/rizik-pesinde-kosma-ve-dine-hizmet-dengesi
- Dibuat oleh
