Persoalan Utama Umat Manusia Masa Kini
Meskipun gejolak sosial, politik, dan ekonomi tak pernah benar-benar berhenti, persoalan utama umat manusia saat ini adalah krisis keimanan. Tidak hanya dunia Islam, dunia Kristen dan Yahudi pun tengah menghadapi masalah serupa, yaitu krisis keimanan yang serius. Tujuan saya membahas perkara ini bukan untuk merendahkan siapa pun atau mempertanyakan derajat keimanan siapa pun, melainkan untuk mengajak kita meninjau kembali kondisi yang sedang kita jalani. Mari sejenak menengok sekeliling kita. Berapa banyak orang yang beribadah seolah-olah sedang menyaksikan Allah, atau setidaknya beribadah dengan kesadaran bahwa dirinya sedang dilihat oleh-Nya? Dari sekitar satu setengah miliar Muslim di dunia, bisakah kita mengatakan dengan yakin bahwa seratus juta di antaranya telah benar-benar menjalani hidup dengan kesadaran ihsan dan muraqabah? Berapa banyak orang yang merasa gelisah karena harus mempertanggungjawabkan bahkan satu butir gandum yang didapat secara tidak halal? Berapa banyak Muslim yang menautkan setiap urusannya kepada kehendak Allah, yang bertekad menjalani hidup sesuai perintah-Nya, dan yang tidak memiliki tujuan lain selain memperoleh keridaan-Nya? Sesungguhnya inilah sesungguhn persoalan terbesar umat manusia di zaman ini.[1]
Sesungguhnya di balik begitu banyak persoalan yang kita alami terdapat kelemahan mendasar dalam hal keyakinan. Ketika manusia tidak mampu mengenal Penciptanya, tidak bisa menetapkan tujuan hidup dengan benar, dan enggan mendengarkan wahyu, maka ia pun berlari mengejar berbagai sistem dan paham-paham seperti komunisme, kapitalisme, liberalisme, sosialisme, dan berbagai “isme” lainnya. Demi keluar dari krisis dan menemukan solusi atas masalah-masalah yang dihadapinya, mereka mencoba paham-paham tersebut sambil menahan kegelisahan. Namun, upaya-upaya tersebut sering kali berakhir dengan kegagalan. Perhatikan saja bagaimana akhir perjalanan komunisme! Pada masa jayanya, ia dipromosikan sebagai sistem paling sempurna bagi umat manusia. Namun, karena bertentangan dengan fitrah manusia ia pun tak mampu bertahan lama. Orang-orang yang lelah dengan ketidakadilan dan eksploitasi kapitalisme, feodalisme, dan berbagai rezim penindasan lainnya lalu berkata, “Mari kita coba sistem lainnya.” Sayangnya, pengalaman kemudian membuktikan bahwa di sana pun mereka tidak berhasil menemukan ketenteraman.
Padahal sejak awal, setiap langkah yang diambil atas nama kemanusiaan seharusnya diperhitungkan dengan matang: apakah langkah tersebut benar-benar menjanjikan masa depan dan sejauh mana manusia sanggup menerimanya dengan kerelaan dan kesabaran. Tanpa keyakinan bahwa sistem yang ditawarkan akan berumur panjang dan diterima dengan baik oleh manusia, seharusnya seseorang tidak tergesa-gesa melangkah dan terjerumus dalam petualangan pemikiran yang berisiko.
Pada masa komunisme sedang populer, buku-buku tentang “Sosialisme Islam” bermunculan di dunia Islam. Bahkan orang-orang yang saya percaya keluasan ilmu dan kedalaman pemahamannya pun ikut menulis topik ini. Sebagian pihak menyatakan bahwa Islam lebih dekat kepada komunisme daripada kapitalisme. Padahal, membandingkan agama samawi dengan sistem ekonomi hanya karena adanya beberapa titik kesamaan adalah sebuah kekeliruan. Sebab, Islam berdiri di atas fondasi keimanan yang terdiri dari iman kepada Allah, kedekatan hubungan dengan-Nya, iman terhadap para nabi dan wahyu ilahi, tauhid, penghambaan, serta percaya akan datangnya hari kebangkitan. Jika persoalan ini hanya dilihat dari sudut pandang ekonomi semata, maka kesalahan akan tak terelakkan. Kalaupun perbandingan semacam itu hendak dilakukan, ia harus disertai batasan dan catatan yang sangat ketat. Di sisi lain, ada pihak yang larut dalam kekaguman buta terhadap Barat, ada yang berlindung di balik historisisme hingga mengabaikan ketetapan Al-Qur’an yang tegas, dan ada pula yang mereduksi Al-Qur’an menjadi sekadar penopang bagi teori-teori ilmu pengetahuan modern..
Menginternalisasi Referensi-Referensi Kita Sendiri
Berbagai persoalan semacam ini pada hakikatnya merupakan buah dari melemahnya kepercayaan kaum Muslim terhadap sumber-sumber referensi, nilai-nilai, dan warisan miliknya sendiri. Karena itu, banyak kaum muslim yang mulai mencari-cari alternatif lain, bahkan terjerumus pada gaya hidup mewah dan berbagai fantasi. Ke depan, bukan tidak mungkin kita akan menghadapi kegelisahan serupa. Hari ini mungkin namanya komunisme, kapitalisme, atau liberalisme; esok bisa saja digantikan oleh berbagai “isme” dan ideologi lain. Massa pun dapat merombak tatanan yang sudah ada dan menggantinya dengan yang baru dengan dalih “Mari kita coba sistem yang ini.” Pada prinsipnya, solusi dalam menghadapi kekacauan dan carut-marut tersebut adalah iman tahkiki.[2] Kita seharusnya memiliki keyakinan yang baik terhadap Al-Qur’an dan Sunah. Adapun sistem-sistem buatan manusia yang tidak bersandar pada wahyu Ilahi harus disikapi dengan sikap kritis, serta diuji dan ditimbang dengan tolok ukur wahyu.
Jika kita benar-benar menghayati dan meresapi sumber-sumber kita sendiri dengan baik, maka kita tidak akan mudah terguncang ketika berhadapan dengan berbagai ideologi. Melalui filter Al-Qur’an dan Sunnah, kita kemudian bisa mengambil apa yang layak diambil dan meninggalkan apa yang patut ditinggalkan. Apabila wahyu Ilahi dijadikan sebagai pedoman, maka karya-karya tokoh besar baik dari Timur maupun Barat nantinya akan kita baca secara kritis. Bahkan tidak jarang kita akan melihat betapa besar kekeliruan yang mereka lakukan sehingga kita pun merasa heran karenanya. Jika kita memiliki ukuran dan kriteria yang khas, kita dapat meneliti inti dari setiap ideologi yang berbeda, menatap, serta menimbang dan mengukurnya dengan jernih. Setelah fondasi dan batas pengaman yang demikian berhasil terbentuk, barulah di atasnya kita bisa mendirikan apa pun yang ingin kita bangun. Namun, pihak-pihak yang meragukan referensi-referensi utamanya sendiri, yaitu yang lemah hubungan dengannya dan miskin pengetahuannya terkait sumber-sumber rujukan dasarnya tersebut, maka mereka bisa terperosok ke dalam upaya pencarian-pencarian lain dan akhirnya mengalami penyimpangan.
Menanggapi kondisi tersebut, kaum terpelajar dan intelektual memiliki peran penting agar masyarakat benar-benar terikat secara batin dengan nilai-nilai budayanya sendiri serta menjaganya dengan penuh kesadaran. Sebab, masyarakat pada umumnya cenderung mengikuti jejak kaum elite. Jika semua upaya dapat dilakukan supaya masyarakat umum dapat difasilitasi untuk memahami sumber-sumber referensi budaya kita dengan baik dan membangun hubungan yang kuat dengan Allah, maka melalui upaya kaum cendekiawanlah kecenderungan masyarakat terhadap kemewahan dan fantasi dapat dibendung. Jika tidak, mereka bisa saja terpesona oleh daya tarik berbagai gagasan dan sistem baru yang dikampanyekan dengan slogan “segala yang baru itu selalu menarik.” Bahkan orang-orang yang paling cerdas pun bisa tertipu olehnya. Oleh karena itu, upaya mencerdaskan dan mencerahkan masyarakat menjadi sebuah keniscayaan.
Bisa saja sarana dan peluang yang tersedia di tempat kita berada belum sepenuhnya mendukung rencana upaya tersebut. Suara kita bisa jadi lemah. Meskipun demikian, kita masih mengemban tugas untuk tetap mengerahkan segenap ikhtiar mencerahkan masyarakat tanpa terlalu mempersoalkan keterbatasan dan kelemahan diri. Kita tak pernah tahu, bisa jadi Allah subhanahu wa ta’ala menganugerahkan pengaruh pada suara kita yang lemah itu sehingga orang lain pun terdorong untuk mulai berpikir. Kadang-kadang, kita dapat bergandengan tangan dengan orang-orang yang meniti jalur yang sama, sehingga suara kita menjadi lebih kuat dan keyakinan kita kian mantap untuk merealisasikan program-program yang telah direncanakan. Melalui beragam aktivitas yang kita rancang dan kelola bersama, kita dapat membuka cakrawala pemikiran baru bagi umat manusia. Kita dapat membimbing manusia, makhluk mulia yang selalu mendamba kesempurnaan, menuju insan kamil dan menjadi perantara tumbuhnya potensi-potensi yang ada dalam diri mereka.
Dalam menjalankan semua itu, kita tidak boleh segan untuk terus menegaskan ketulusan dan kejernihan niat serta pemikiran kita di setiap kesempatan supaya tidak menimbulkan keresahan pada pihak lain. Kita harus berulang kali menegaskan bahwa tujuan kita adalah meraih rida Allah semata. Segala usaha dan amal yang kita lakukan diarahkan untuk memperoleh keridaan-Nya. Segala sesuatu selain-Nya kita kesampingkan. Di hadapan rida Ilahi, bahkan kekuasaan duniawi sekalipun tampak begitu kecil di mata kita. Karena itulah, kita memilih untuk berpaling dari hal-hal semacam itu.
Dakwah Khidmah Iman
Kita mengikatkan diri pada tujuan meraih rida Allah melalui upaya mengibarkan nama-Nya yang Mahatinggi dan menyampaikannya kepada hati-hati yang membutuhkan. Kita berusaha mematangkan, memperbanyak, lalu menyalurkan ilham-ilham yang lahir dari nurani kita ke dalam hati seluruh umat manusia. Di samping itu, kita meyakini bahwa di tengah dunia yang dilanda perlombaan senjata dan dipenuhi beragam bentuk kekerasan ini umat manusia sesungguhnya membutuhkan dialog, cinta, sikap saling berbagi, dan rekonsiliasi. Di sanalah kita melihat jalan menuju perdamaian dan keselamatan. Karena itu, kita memandang upaya menunjukkan jalan hidup yang manusiawi kepada sesama sebagai bagian dari konsekuensi iman kepada Allah, sekaligus sebagai tugas yang kita emban. kita percaya bahwa jalan untuk menjadikan dunia ini laksana koridor menuju surga hanya mungkin ditempuh melalui sikap saling berbagi dan saling kompromi. Atas dasar itulah, kita ingin menyampaikan perasaan dan pemikiran ini kepada semua orang, laksana benih yang ditebarkan ke berbagai lahan. Sejauh mana umat manusia akan menyambutnya, mengembangkannya, dan mengamalkannya, kita tidak tahu. Itu sepenuhnya menjadi urusan mereka dan berada di luar ranah tanggung jawab kita.
Sebagai penutup, perlu kita tegaskan bahwa melalui pembangunan jembatan-jembatan dialog dengan pihak lain, kita meyakini masih banyak nilai yang dapat kita pelajari dari mereka, dan kita tidak ingin menutup diri dari hal tersebut. Hati kita tidak rela jika orang lain terhalang untuk mengambil manfaat dari nilai-nilai dan khazanah yang kita miliki, sebagaimana kita pun tidak ingin kehilangan kesempatan untuk menikmati keindahan yang dimiliki oleh kebudayaan dan peradaban lain.
Meskipun demikian, akan selalu ada jiwa-jiwa yang dipenuhi prasangka dan tidak pernah mau mempercayai apapun yang kita sampaikan. Pada kenyataannya, mereka memang ada. Apa pun yang kita lakukan, selalu ada orang yang tidak akan pernah bisa dirangkul. Bahkan jika sebuah tangga menuju surga diletakkan di hadapan mereka dan mereka menyaksikan surga itu dengan mata kepala sendiri, mereka tetap akan berkata, “Jangan-jangan di seberangnya ada jurang tersembunyi, dan mereka ingin menjebak kita ke sana!” Dengan kecurigaan semacam itu, mereka enggan menaiki tangga yang diletakkan di hadapan mereka, meskipun ujung tangga itu adalah surga. Orang-orang keras kepala seperti ini tidak pernah absen dalam setiap zaman. Di masa mendatang pun mereka akan tetap ada. Kita tidak akan mampu menghentikan permusuhan para pembenci, sebagaimana kita juga tidak dapat membendung rasa dengki orang-orang yang iri. Jika memungkinkan, pengaruh mereka perlu dipersempit. Namun, apa pun yang terjadi, kita tidak boleh sekali-kali menjauh dari tugas dan tanggung jawab yang telah diamanahkan kepada kita.
[1] Diterjemahkan dari artikel: https://fgulen.com/tr/eserleri/kirik-testi/gunumuzun-en-onemli-meselesi
[2] Iman tahkiki adalah iman yang lahir dari kesadaran, pemahaman, dan pembuktian batin, bukan sekadar ikut-ikutan atau warisan lingkungan. Umumnya iman dibagi menjadi dua: Pertama, iman taqlidi, yaitu iman karena ikut orang tua, guru, tradisi, atau lingkungan. Kedua, iman tahkiki, yaitu keimanan yang dibangun melalui pencarian, perenungan, dalil, dan pengalaman sadar, sehingga keyakinan itu kokoh dan tidak mudah goyah.
- Dibuat oleh