Hak dari Ifah dan Iradat

Pertanyaan: Bagaimana seharusnya kita memahami hadis Nabi yang berbunyi, “Jagalah ifah dan kehormatan kalian di hadapan perempuan lain, niscaya perempuan-perempuan kalian pun akan menjaga ifah dan kehormatannya.” (Kanzul ‘Ummâl, 34/34)?[1]

 

Jawaban: Hadis ini dalam berbagai sumber diriwayatkan dengan matan: 

عِفُّوا عَنْ نِسَاءِ النَّاسِ تَعِفَّ نِسَاؤُكُمْ

“Jagalah ifah dan kehormatan kalian di hadapan perempuan lain, niscaya perempuan-perempuan kalian pun akan menjaga ifah dan kehormatannya.

 

Dari sisi ilmu hadis, tingkat kesahihannya perlu dikaji lebih lanjut. Namun, dari segi makna dan kandungannya, jelas bahwa hadis ini mencerminkan salah satu sabda Nabi yang bercahaya, penuh keberkahan, dan ringkas tetapi sarat akan makna yang kita sebut sebagai jawâmi‘ al-kalim. Fenomena ini banyak kita temukan pada sabda-sabda beliau yang lain.

 

Akal Sehat dan Iffah

Terkait kandungan hadis mulia ini, pertama-tama saya ingin menyoroti satu prinsip dasar yang juga bisa kita temukan dalam banyak nash lainnya. Pada umumnya, manusia akan menerima balasan dari apa yang mereka perbuat, yang selaras dengan perbuatannya sendiri. Artinya, jika kita berprasangka baik kepada orang lain, orang lain cenderung akan berprasangka baik kepada kita. Jika kita menyambut dan memperlakukan orang dengan cinta dan kasih sayang, mereka pun akan membuka hati kepada kita dengan cinta dan kasih sayang serupa. Jika kita berbuat kebaikan dan memberi manfaat kepada sesama, mereka pun akan membalas kita dengan kebaikan dan kepedulian. Sebab, kebaikan yang kita lakukan menjadi pemantik tumbuhnya rasa kebaikan dalam diri orang lain.

 

Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an:

 

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعٰى وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرٰى ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَۤاءَ الْأَوْفٰى

 

“Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan. Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna.”

(QS. An-Najm: 39–41)

 

Dengan ayat ini, kita dapat memahami bahwa seseorang akan menerima balasan dari sebagian perbuatan buruknya di dunia. Adapun keburukan yang tidak terbalaskan di dunia, di mana balasannya ditangguhkan hingga datangnya Mahkamah Agung di akhirat nanti,  maka balasannya akan ia temui di sana kelak. Sebagai catatan tambahan, jika kita merenungkan keluasan dan tak terbatasnya rahmat Ilahi, kita berharap bahwa Allah akan membalas keburukan-keburukan manusia di akhirat nanti dengan limpahan rahmat-Nya. Seolah-olah keburukan itu dipersempit dan dibatasi untuk kemudian diserukan kepadanya, “pengaruhmu hanya sampai di sini saja,” serta membekukan pembalasannya. Adapun kebaikan, Allah Yang Mahamulia akan melipatgandakannya dengan karunia dan rahmat-Nya yang tak terhingga  sebagaimana satu benih yang ditanam di tanah, ia dapat tumbuh menjadi seribu bulir di mana semua itu kelak akan dianugerahkan kepada manusia di akhirat.

 

Setelah penekanan pada prinsip dasar tersebut, mari kita kembali kepada teks hadisnya. Dalam hadis tersebut terdapat ungkapan:

 

“Jagalah kehormatan terhadap istri-istri orang lain.”

(عِفُّوا عَنْ نِسَاءِ النَّاسِ)

 

Sekilas, sabda ini tampak seperti ditujukan langsung kepada para lelaki. Seakan-akan Rasulullah mengingatkan, “Wahai para lelaki! Kalianlah yang terlebih dahulu harus menjaga kehormatan dan kesucian diri terhadap istri orang lain. Jika kalian mampu menjaga diri, maka insyaAllah istri kalian pun akan terjaga dari godaan lelaki lain.”

 

Sesungguhnya jika seseorang nekat melakukan keburukan untuk kemudian tetap bersikeras meski sudah diperingatkan berkali-kali, maka cepat atau lambat Allah akan memperlihatkan akibat dari perbuatannya itu. Kadang balasan itu menimpa dirinya sendiri, kadang melalui pasangannya, atau bahkan melalui orang yang dekat dengannya. Sebab balasan itu sejenis dengan perbuatannya:

 

Ya, terdapat kaidah “Balasan itu sepadan dengan jenis amalnya.”

(اَلْجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ)

 

Ada kesesuaian antara dosa dan konsekuensinya. Seseorang bisa saja merasakan balasan atas dosanya dalam bentuk rasa malu dan kehinaan yang sangat menyakitkan, Na’udzubillah. Padahal manusia diciptakan dalam kemuliaan dengan potensi terbaik (ahsan taqwim). Bagi makhluk semulia ini, aib semacam itu adalah musibah yang sangat berat. Semoga Allah menjaga kita dari kehinaan akibat rusaknya kehormatan.

 

Ya, manusia adalah makhluk paling mulia. Karena itu, menjaga kehormatan diri bukan sekadar tuntutan moral, tetapi juga konsekuensi dari akal dan martabat yang telah Allah anugerahkan. Jika seseorang mau menggunakan akal sehatnya, ia akan memikirkan praktik suatu perbuatan dari awal hingga akhir yaitu dengan jalan mempertimbangkan sebab dan akibatnya serta melihat konsekuensi yang mungkin timbul darinya. Dengan begitu, ia dapat mengendalikan kehendaknya dan menjauhi sikap serta perilaku yang pada akhirnya hanya akan menyeretnya pada penyesalan dan rasa malu.

 

Dari sudut pandang ini, siapa pun yang tidak ingin kehormatannya ternoda, harus berhati-hati pula dalam menjaga kehormatan orang lain. Jika kita melihat persoalan ini lebih luas, seorang mukmin yang menjadi representasi rasa aman dan keselamatan bagi lingkungan sekitar semestinya menunjukkan kepekaan yang sama. Sebagaimana ia menjaga harga diri dan kehormatan keluarganya maka sudah semestinya ia menjaga kehormatan orang lain dengan kepekaan yang sama. Dalam cara pandang ini, seorang mukmin tidak cukup hanya berkata, “ini kehormatanku,” “ini istriku,” “ini keluargaku.” Sebab jika seseorang adalah pasangan hidup kita, maka perempuan lain pun pada hakikatnya adalah saudari kita, kakak kita, adik kita, dan bibi kita. Dengan kesadaran seperti itu, seseorang tidak akan mudah tergelincir pada perbuatan yang na’udzubillah musibahnya suatu saat bisa kembali menimpa kita dalam bentuk yang berlipat ganda. Dengan demikian, ia tidak akan mempermainkan kehormatan orang lain, tidak akan memandang dengan tatapan yang tidak pantas, dan tidak akan meremehkan batas-batas kesucian.

 

Meski Usianya sudah Matang…

Lalu, apa saja disiplin yang ditetapkan Islam dalam perkara ini? Rasulullah bersabda:

لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ

“Jangan sekali-kali seorang lelaki berduaan dengan seorang perempuan (yang bukan mahramnya), kecuali bersama mahramnya.” (HR. Sahih al-Bukhari, Kitab Nikah no. 111)

 

Dalam hadis lain beliau juga bersabda: “Seorang perempuan tidak boleh bepergian tanpa ditemani mahramnya.” (HR. Sahih al-Bukhari, Kitab Jihad no. 140). Bahkan menurut fuqaha mazhab Hanafi, dalam ibadah yang wajib seperti haji sekalipun, disyaratkan adanya suami atau mahram yang menyertai perempuan. Semua ketentuan ini pada hakikatnya adalah pagar, batas, dan pelindung. Seorang mukmin semestinya berusaha tetap berada di balik pagar itu dan tidak melampauinya. Hal ini ditegaskan pula dalam hadis yang sangat masyhur:

اَلْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشَبَّهَاتٌ لَا يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ فَمَنِ اتَّقَى الْمُشَبَّهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ

“Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya ada perkara-perkara syubhat yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Siapa yang menjaga diri dari perkara syubhat, maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya.”(HR. Sahih al-Bukhari, Kitab Iman no. 39)

 

Memasuki wilayah syubhat itu seperti berjalan di ladang ranjau. Orang yang berada di sana setiap saat bisa terkena ledakan. Dalam berbagai sabdanya, Rasulullah juga mengingatkan bahwa mata bisa memandang, kaki bisa melangkah, tangan bisa meraih dan ketika seseorang sudah sampai pada titik tertentu dalam keharaman, sering kali sulit untuk kembali. Karena itu, ketika pikiran mulai hanyut pada khayalan yang kotor, ia harus segera menarik diri.

 

Jika tidak, ia bisa kalah oleh dorongan hawa nafsu dan jasmaninya, hingga kehidupan hati dan ruhnya lumpuh oleh bahaya yang mematikan. Bahkan orang yang sudah berusia lima puluh atau enam puluh tahun pun jika tidak berpegang pada disiplin dan prinsip-prinsip Islam dalam hal ini, tetap berada dalam ancaman yang sama. Semoga Allah menjaga kita, baik yang muda maupun yang telah berusia matang, dari keterjerumusan ke dalam lumpur imoralitas yang memalukan. Jika sudah ada yang terperosok, semoga Allah menganugerahkan jalan untuk bangkit dan membersihkan diri. Bagi manusia yang diciptakan dalam sebaik-baik bentuk (ahsan taqwim), yaitu sebagai makhluk paling mulia, kehinaan semacam itu adalah beban rasa malu yang sangat berat.

 

Ketika pembicaraan sampai pada titik ini, izinkan saya mengulang kembali sebuah syair dari seorang sahabat saya yang berprofesi sebagai seorang pembuat jam sekaligus penyair. Syair ini pernah saya bacakan pada kesempatan lain:

 

“Aku telah mengembangkan layar ke lautan pemberontakan;

arusnya tak membiarkanku merapat ke tepi.”

 

Benar, terkadang manusia terseret arus begitu kuat. Ia mungkin menyesal atas apa yang telah dilakukannya dan ingin keluar dari keadaan itu, tetapi belum tentu ia mampu kembali seperti sediakala. Karena itu, sebaiknya manusia tidak terlalu percaya pada kekuatan, kemampuan, ataupun kehendaknya sendiri. Yang paling aman adalah sejak awal tidak membiarkan diri terseret arus. Namun, jika saja akibat berbagai dorongan dan sebab ia sudah terlanjur terbawa arus itu, naudzubillahi min dzalik, maka ia harus berkata pada dirinya: “Aku bukan hewan yang hanya bergerak mengikuti naluri.” Ia harus menggunakan iradatnya secara sadar dan segera berbalik arah.

 

Akan tetapi, sulit rasanya mengatakan bahwa kepekaan seperti ini masih berakar kuat di zaman sekarang. Keadaan yang ada justru lebih mengingatkan kita pada bait-bait almarhum Mehmet Akif Ersoy berikut ini:

 

Rasa malu telah tersingkap dan tersingkir sudah 

begitu telanjang wajah-wajah yang dulu tertutup selapis tirai tipis.

 

Tiada lagi kesetiaan: janji tak dihormati, amanah tinggal kata tanpa makna;

dusta menjadi biasa, khianat dianggap wajar, kebenaran tak dikenal lagi…

.

Bulu kuduk meremang, ya Rabb, betapa dahsyat perubahan ini:

agama seakan runtuh, iman seakan menjadi debu…

 

Biarlah kebanggaan lenyap, hati nurani membisu;

bila keruntuhan moral terus berjalan, kemerdekaan pun takkan bertahan!

 

Hari ini kita menyaksikan lapis demi lapis peluruhan, keretakan, dan deformasi moral. Di tengah arus seperti ini, dibutuhkan bukan sekedar sikap luar biasa, melainkan suatu karamah, serta sosok-sosok berkemauan baja yang mampu menampilkan karakter itu. Yang dibutuhkan bukan hanya orang yang menjaga kehormatannya sendiri, tetapi juga yang gemetar memikirkan kehormatan umatnya. Ya, kita membutuhkan sosok-sosok yang mampu menghidupkan kembali rasa malu, kehalusan budi, dan kepekaan nurani yang dulu menjadi ciri kita sehingga arus yang deras ini bisa kita balikkan.

 

Saya kira, ketika Badiuzzaman Said Nursi yang dijuluki Pîr-i Mugân dan Syams yang Bersinar mengatakan: “Agama adalah kehidupan bagi kehidupan, sekaligus cahaya dan asasnya. Kebangkitan bangsa ini hanya dapat dicapai dengan jalan kebangkitan agama masyarakat bangsanya.” Melalui pernyataannya tersebut beliau sedang menyentuh simpul paling vital dari persoalan ini.

 

Kewalian yang Menanjak Vertikal

Sebagai penutup, perlu saya sampaikan satu hal penting. Semakin kuat dorongan negatif, hasrat, dan kecenderungan buruk dalam diri seseorang, jika ia menghadapi itu semua dengan berlindung kepada Rabb-nya dan benar-benar menggunakan iradat sesuai potensi yang dimilikinya, maka Allah akan melimpahkan karunia berlipat ganda agar ia mampu menaklukkan kelemahan-kelemahan tersebut.

 

Hampir setiap manusia, pada kadar tertentu, memiliki benih kecenderungan kepada keburukan. Di antaranya adalah kecenderungan untuk rakus, keinginan memiliki harta yang yang dinikmati orang lain, hasrat ingin dipuji dan menjadi pusat perhatian, sifat egois, serta ambisi terhadap ketenaran dan jabatan. Hanya saja pada sebagian orang dorongan itu muncul jauh lebih kuat. Misalnya ada orang yang jika diletakkan di tengah tumpukan emas, ia tidak akan menyentuhnya meski satu keping sekalipun. Bahkan jika tanpa sengaja ada emas yang terbawa olehnya lalu ia telah pergi jauh selama berhari-hari, ia akan kembali hanya untuk mengembalikannya ke tempat semula. Dalam hal harta, ia tidak memiliki celah kelemahan. Namun, belum tentu orang yang sama memiliki keteguhan serupa dalam perkara cinta kedudukan dan popularitas (hubb al-jâh). Bisa jadi di sana ia memiliki celah kelemahan. Bahkan sebagian orang bisa jadi memiliki seluruh “virus” yang pernah disebutkan oleh sang Ustadz dalam Hücumat-ı Sitte (6 serangan).[2]

 

Nah, jika seseorang yang digempur oleh berbagai “virus” itu mampu berkata: “Aku bukan makhluk yang tunduk pada naluri kebinatangan dan dorongan jasmani semata. Selain tubuh, aku memiliki hati dan ruh. Aku harus bergerak dan melakukan perjalanan berdasarkan orbit tersebut.” Lalu ia benar-benar menggunakan iradatnya dan berjuang melawan dorongan-dorongan tersebut secara heroik seperti seorang gladiator yang bertarung di arena koloseum, maka pahala yang diraihnya akan sangat istimewa.

 

Derajat orang seperti ini jauh lebih tinggi dibanding orang biasa yang memang sejak awal tidak memiliki dorongan sekuat itu. Bahkan keadaan itu bisa mengangkatnya seperti roket yang meluncur di tanjakan di mana ia terbang menanjak secara tegak lurus hingga tiba di ufuk kewalian.[3]

 

[1]  Diterjemahkan dari artikel: https://herkul.org/kirik-testi/iffet-ve-iradenin-hakki/ 

  

[2]  Dalam tulisannya, Badiuzzaman menuliskan 6 serangan setan terdiri dari: 1) Hubb-u Jah (Cinta Kedudukan dan Popularitas); 2) rasa takut; 3) tamak; 4) fanatisme kesukuan; 5) Ananiyah (Ego/Keakuan); dan 6) Cinta Kenyamanan. (Baca: Surat ke-29, Al-Maktubat)

 

[3]   Inilah yang bisa disebut sebagai “kewalian vertikal”: bukan karena ia tidak memiliki kelemahan, tetapi karena ia mampu menaklukkan kelemahannya dengan kesadaran, perjuangan, dan pertolongan Ilahi.